GUNUNG ASEUPAN, SIKECIL CABERAWIT
Gunung Aseupan yang Secara
Administrasi // terletak di dua wilayah Kabupaten // Yakni Kabupaten Pandeglang
dan Kabupaten Serang // dengan total luas area 8.095 Hektar // Gunung Asepan
memiliki puncak tertinggi dengan ketinggian 1.174 Mdpl.
Gunung Aseupan bukan merupakan gunung berapi
// walaupun berdekatan dengan gunung berapi yang cukup populer di Banten //
yakni gunung PulosarI // dan gunung Karang // Nama Aseupan sendiri adalah
istilah Bahasa sunda yang memiliki arti // “anyaman bambu yang berbentuk
kerucut” // sebagai alat yang biasa digunakan untuk memasak nasi.
Masyarakat sekitar Gunung Aseupan // banyak
yang berprofesi sebagai petani Melinjo // Cengkeh // dan // Kopi // selain itu
juga // Wilayah perkebunan masyarakat juga ditanam berbagai jenis tanaman kayu //
seperti mahoni // sengon // suren // Tidak terkecuali dengan abah umar //
Lelaki paruh baya berumur sekitar 70
tahun ini // masih aktif berkebun di
sekitar Pos 2 Gunung Aseupan // yang di tanamnya pun barvariasi // dari Cengkeh
// hingga Durian // setiap haripun Abah umar pulang pergi ke kebunnya // yang
berjarak sekitar 3 KM // dengan jarak tempuh 1 jam dari tempat tinggal nya yang
juga di jadikan Bacecamp para pendaki.
Gunung Aseupan masih menjadi tempat tinggal beberapa hewan // mulai dari monyet ekor Panjang // beberapa burung termasuk Elang Jawa // Kijang // serta Babi hutan berjanggut (sus barbatus) // selain itu juga ada beberapa informasi warga bahwa gunung aseupan masih menjadi rumah untuk Macan tutul // Selain hewan // gunung aseupan juga masih di tumbuhi beberapa tumbuhan yang bisa di bilang sudah cukup langka // yakni tanaman Kantung Semar.
Untuk bisa sampai ke Puncak Aseupan // kami
melewati Pos Abah Umar // rumah yang di jadikan Pos oleh para pendaki gunung
yang ingin ke puncak aseupan // pos ini terletak di kampung Pamatangserang // Desa
Sikulan, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang Banten // Disini kita bisa
mendaftarkan diri dengan biaya tiket masuk sebesar Rp.10.000.
Awal perjalanan // kita disuguhkan dengan
perkebunan milik warga dengan track tidak terlalu terjal dan bisa di bilang landau
// akan tetapi apabila habis hujan track ini cukup sulit di karenakan licin.
2 jam perjalanan di perkebunan warga akhirnya
kita sampai di pos 3 // pos 3 adalah tempat camp yang digunakan pendaki sebelum
mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak // di Pos 3 terdapat warung milik
warga // untuk camp di sini kita dikenakan biaya 10.000 untuk satu tenda // Sebenar nya di pos 3 ada sumber sungai yang
bisa di jumpai pendaki untuk mengambil air // akan tetapi jarak nya yang
lumayan jauh dan jalur yang cukup terjal // sehingga tidak banyak pendaki yang
mau mengambil air disitu // tapi tak perlu khawatir, di warung menyediakan air
mentah yang di ambil dari kali tersebut dengan harga 5000 per 1 botol aqua.
Melanjutkan perjalanan ke Puncak Aseupan //
biasanya para pendaki meninggalkan ranselnya di camp ini atau menitipkannya kepada pemilik warung //
akan tetapi kami tetap melanjutkan dengan membawa perlatan kami.
2 jam setengah kami menelusiri hutan dari
pos 3 sampai ke puncak aseupan dengan track yang cukup ekstrim // punggungan
tipis // dan tanjakan curam. Tepat pukul 13.00 kami tiba di puncak gunung
aseupan.
Kurang lebih 1 jam kami di puncak untuk
makan siang // dan seketika kami langsung turun // dikarenakan akan turun hujan
// benar saja 10 menit kami jalan turun, hujan disertai angin pun ikut turun
dengan derasnya // Singkat nya pukul 17.00 kami tiba di basecamp dan langsung
persiapan pulang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar